Perbaikan Data
Perbaikan Data khusus anggota
Klik Di Sini

Okupansi Hotel Kota Pekalongan Alami Penyesuaian, PHRI Soroti Pola Musiman dan Peluang Kolaborasi

Kota Pekalongan – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Pekalongan mencatat adanya penurunan tingkat okupansi hotel pada awal tahun 2025 jika dibandingkan dengan satu hingga dua tahun sebelumnya. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua PHRI Kota Pekalongan, Bahtiar, berdasarkan hasil pemantauan dan berbagi data antar pelaku perhotelan setempat. Ia mengatakan, tingkat okupansi hotel di Kota Pekalongan pada tahun 2025 berada di kisaran 35 hingga 40 persen. Meski demikian, aktivitas perhotelan dinilai masih berjalan karena tetap adanya tamu dari sektor tertentu, seperti bisnis, budaya, keagamaan dan lainnya. Menurutnya, kondisi cuaca yang terjadi belakangan ini juga memberikan dampak yang beragam. Beberapa hotel justru mengalami peningkatan hunian karena dimanfaatkan oleh masyarakat yang mengungsi akibat cuaca ekstrem. Namun, situasi tersebut tidak dirasakan secara merata oleh seluruh hotel. “Dengan kondisi cuaca seperti ini, memang ada beberapa hotel yang diuntungkan karena digunakan sebagai tempat mengungsi, tetapi tidak semua hotel merasakan dampak yang sama,” tuturnya saat ditemui di Kiyana Hotel Batang, Rabu (4/2/2026). Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa fluktuasi okupansi hotel di Kota Pekalongan memiliki pola musiman yang dapat dipetakan dari tahun ke tahun. Pada bulan Januari, tingkat hunian umumnya cenderung menurun karena momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) telah berakhir, sementara sebagian perusahaan dan instansi pemerintahan belum kembali menggelar kegiatan atau event. “Secara grafik, Januari memang biasanya landai. Setelah Nataru, aktivitas perusahaan dan pemerintahan belum berjalan penuh,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa tingkat okupansi akan mulai mengalami perubahan positif pada bulan Februari dan Maret tahun 2026. Berbagai hotel telah menyiapkan paket promo, khususnya untuk kegiatan buka bersama di bulan Februari, sementara lonjakan tamu diperkirakan terjadi pada Maret seiring dengan momentum Idul Fitri. Selain itu, ia menjelaskan bahwa karakteristik tamu hotel di Kota Pekalongan masih didominasi oleh tamu bisnis. Kegiatan keagamaan dan budaya seperti khaul juga dinilai memberikan dampak terhadap tingkat hunian hotel, meskipun masih diperlukan penguatan kerja sama agar manfaatnya dapat dirasakan lebih optimal. “Kegiatan khaul tentu berimbas, namun ke depan perlu kolaborasi yang lebih intens antara perhotelan dengan panitia khaul agar dampaknya bisa lebih maksimal,” jelasnya. Ia berharap melalui sinergi antara pelaku usaha perhotelan, penyelenggara event, dan pemangku kepentingan lainnya, sektor perhotelan di Kota Pekalongan dapat terus beradaptasi dan berkembang sesuai dengan dinamika yang ada. (Tim Liputan Dinkominfo/dea)