Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Pada 26 Januari 2026, Musyawarah Cabang (MUSCAB) VII Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Garut berlangsung lancar dan meriah, menandai awal periode kepengurusan baru 2026-2031. Momentum demokrasi organisasi ini menghasilkan keputusan penting: terpilih secara aklamasi H. Ato Hermanto sebagai Ketua PHRI Garut untuk lima tahun ke depan.Figur yang tak asing di dunia usaha lokal, Ato Hermanto adalah pengusaha di balik brand Dodol Picnic Garut dan Resto Bale Tingtrim Pujasega. Kepercayaan yang diberikan kepadanya tidak hanya menyangkut kapasitas bisnis, melainkan juga visi untuk membawa asosiasi ini lebih dekat pada realitas dan tantangan pengusaha akomodasi dan kuliner di Garut. Di pundaknya, terbeban tagline yang penuh semangat: "PHRI Bangkit, Kolaborasi Wujudkan Pariwisata Garut Hebat." Tagline tersebut bukan sekadar slogan. Ia adalah kompas dan janji. "Bangkit" mengisyaratkan semangat pemulihan pasca-tantangan besar industri, sekaligus tekad untuk bergerak lebih progresif di tengah lanskap bisnis yang berubah cepat. Sementara "Kolaborasi" menjadi kata kunci strategis, mengakui bahwa kemajuan pariwisata tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja, melainkan melalui sinergi erat antara pengusaha hotel-restoran, pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha kreatif lokal. Kolaborasi ini semakin vital dalam menghadapi wisatawan baru yang lebih terhubung secara digital, lebih kritis, dan mendambakan pengalaman yang autentik serta berkelanjutan. PHRI, sebagai asosiasi profesi di bidang akomodasi dan restoran, telah berumur panjang di Indonesia. Dalam konteks kekinian Garut, perannya justru semakin krusial. Di tengah geliat pariwisata Indonesia yang terus berbenah dan persaingan antardaerah yang semakin ketat, hotel dan restoran bukan sekadar penyedia fasilitas. Mereka adalah frontliner yang membentuk kesan pertama dan terakhir wisatawan, penjaga cita rasa kuliner lokal, serta simpul penting dalam rantai ekonomi pariwisata. Sebagaimana disampaikan oleh Ivi Daspi seorang praktisi dan akademisi hospitality di Garut, "Tantangan terbesar pelaku hotel dan restoran kita saat ini adalah bertransisi dari penyedia accommodation & food menjadi creator of memorable experience. Kunci utamanya ada pada kemampuan berkolaborasi merancang paket pengalaman yang autentik, yang hanya bisa ditemukan di Garut."Mereka memegang peran ganda: sebagai unit bisnis yang harus bertahan dan berkembang, sekaligus sebagai duta budaya yang memperkenalkan keunikan Garut. Mulai dari standar pelayanan, kebersihan, keamanan, hingga bagaimana menyajikan pengalaman menginap dan menyantap hidangan yang tak terlupakan, semuanya bermula dari dua domain ini. Kualitas mereka secara langsung mempengaruhi durasi tinggal wisatawan, nilai belanja, dan kemungkinan mereka untuk berkunjung kembali atau merekomendasikan Garut kepada orang lain.Oleh karena itu, kepemimpinan baru PHRI Garut di bawah H. Ato Hermanto dihadapkan pada tugas yang kompleks namun mulia. Agenda ke depan harus menyentuh aspek pemberdayaan anggota secara menyeluruh, tidak hanya dalam operasional tradisional tetapi juga dalam menghadapi tantangan kekinian. Pertama, adaptasi teknologi dan digitalisasi menjadi keniscayaan. Laporan World Travel & Tourism Council (WTTC) 2025 berjudul "The Global Trends Shaping the Future of Travel" menyoroti bahwa integrasi Artificial Intelligence (AI) untuk personalisasi layanan dan data analytics untuk memahami preferensi tamu sudah menjadi standar baru. Sementara itu, Data Kemenparekraf 2024 menunjukkan peningkatan signifikan transaksi online pada sektor pariwisata daerah, menegaskan bahwa kehadiran digital yang cerdas bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.Kedua, peningkatan kompetensi SDM dengan kurikulum baru yang mencakup digital literacy, storytelling untuk promosi konten, serta prinsip-prinsip keberlanjutan (sustainable hospitality). Ketiga, inovasi berbasis lokalitas. Chef dan pengusaha kuliner ternama, William Wongso, sering mengatakan, "Kekuatan terbesar kuliner Indonesia adalah pada keaslian dan cerita di balik setiap bahan dan hidangan." Filosofi ini harus diadopsi. Hotel dan restoran di Garut perlu menjadi platform yang mengangkat produk lokal---mulai dari dodol Picnic,dorokdok,burayot, kopi, hingga sayuran organik dari lereng Cikurai dan Papandayan---ke dalam pengalaman menginap dan menyantap yang bernilai tambah tinggi. Kolaborasi dengan petani, pengrajin, dan pelaku UMKM lokal bukan hanya baik untuk ekonomi sirkular, tetapi juga menjadi cerita pemasaran yang powerful, sesuai dengan tren conscious travel yang menguat pasca-2025. Keempat, menjadikan PHRI sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan yang berpihak pada iklim usaha yang sehat dan berkelanjutan. Kolaborasi untuk pengelolaan destinasi, penataan kawasan, promosi yang terintegrasi, dan penyelesaian masalah klasik seperti infrastruktur pendukung, kebersihan lingkungan, serta keamanan, menjadi medan kerja nyata untuk mewujudkan "Pariwisata Garut Hebat".MUSCAB VII PHRI Garut 2026 bukan sekedar peralihan kepengurusan rutin. Ia adalah deklarasi kesiapan para pelaku usaha hotel dan restoran untuk mengambil peran lebih aktif, terkoordinasi, dan kolaboratif di era baru. Pilihan atas seorang pengusaha yang akrab dengan denyut nadi usaha lokal diharapkan dapat membawa angin segar dan pendekatan yang praktis namun visioner.Dengan semangat "bangkit" dan semangat "kolaborasi" yang diusung, kepengurusan PHRI Garut 2026-2031 memiliki peluang besar untuk menjadi katalisator percepatan pemulihan dan lompatan kemajuan pariwisata Garut. Perjalanan menuju "hebat" memang panjang, namun langkah awal dengan konsolidasi internal, visi yang adaptif terhadap tren bisnis kekinian, dan komitmen membuka pintu kolaborasi lebar-lebar ini, adalah fondasi yang tepat untuk memulainya. Seperti kata pepatah dalam bisnis hospitality, "Jika ingin cepat, berjalanlah sendiri. Jika ingin jauh, berjalanlah bersama." PHRI Garut kini memilih untuk berjalan jauh, bersama-sama, menuju masa depan pariwisata yang lebih gemilang. Mari kita nantikan aksi nyata dan sinergi yang akan tercipta, demi Garut yang semakin mempesona (*) 1 2 Lihat Sosbud Selengkapnya