DENPASAR, NusaBali.com — Sektor pariwisata Bali masih menghadapi tekanan menjelang perayaan Imlek 2026. Tingkat okupansi hotel dan aktivitas wisata dilaporkan turun hingga sekitar 50 persen, dipengaruhi oleh musim hujan serta belum pulihnya pasar wisatawan Tiongkok secara penuh. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Jumat lalu mengatakan, bulan Januari memang termasuk periode sepi kunjungan (low season). Namun, kondisi tahun ini terasa lebih berat karena cuaca ekstrem yang mengurangi minat wisatawan untuk beraktivitas di luar ruangan.“Memang Januari itu bulan low season, tapi tahun ini terasa lebih dalam karena hujan dan kondisi alam. Okupansi sekarang sekitar 50 persen,” ujarnyaHarapan pelaku usaha kini bertumpu pada momentum libur Imlek, yang biasanya didominasi pasar wisatawan Tiongkok. Namun, pemulihan pasar tersebut dinilai belum sepenuhnya terjadi, sehingga sektor pariwisata Bali masih sangat bergantung pada wisatawan dari India dan beberapa negara lain untuk mengisi periode Februari.Pelaku usaha berharap momentum Imlek dapat membantu mengangkat kembali kinerja pariwisata, khususnya untuk mengisi periode Februari yang biasanya menjadi awal peningkatan kunjungan sebelum memasuki musim liburan pertengahan tahun.“Kita berharap saat Imlek nanti ada peningkatan, biasanya pasar Tiongkok masuk di Februari. Tapi sekarang belum pulih sepenuhnya, jadi masih ditopang wisatawan dari India. Biasanya Imlek jadi momentum pasar Tiongkok. Tapi sekarang belum pulih penuh. Jadi yang banyak mengisi masih dari India. Kami berharap Imlek tahun ini bisa mendorong kenaikan kunjungan di Februari,” katanya.Di sisi lain, pariwisata Bali tengah menghadapi tekanan dari berkembangnya isu-isu negatif tentang Bali di luar negeri, mulai dari persoalan lingkungan, sampah, hingga wacana kebijakan baru seperti rencana pengenaan jaminan bagi wisatawan asing. Meski masih sebatas wacana, isu tersebut dinilai memengaruhi persepsi pasar dan menahan laju pemesanan untuk musim liburan pertengahan tahun.“Biasanya Januari sampai Maret sudah banyak booking untuk Juni sampai September. Tapi sekarang masih sepi. Banyak yang bertanya-tanya soal kebijakan baru, padahal itu belum diputuskan,” ujarnya.Selain faktor kebijakan, status siaga bencana di sejumlah wilayah dan gangguan cuaca turut memengaruhi rasa aman wisatawan. Meski dampaknya dinilai sementara, pelaku pariwisata berharap pemerintah segera memberikan kepastian informasi agar pasar internasional tidak semakin ragu melakukan perjalanan ke Bali.Pelaku usaha berharap, perbaikan pengelolaan destinasi, penanganan isu lingkungan, serta kepastian kebijakan pariwisata dapat segera dilakukan agar kepercayaan wisatawan kembali pulih, terutama menjelang puncak musim liburan pertengahan tahun 2026. *may